Sunday, April 15, 2018

New Balance atau League

Saya punya beberapa sepatu, termasuk sepatu lari. Untuk yang ini, yang paling sering saya pakai hanya dua: New Balance dan League.

Keduanya sama-sama ukuran 42 1/2. Bedanya, yang pertama biru navy dan yang kedua merah.

Meski sesama sepatu lari, tapi saya lebih menyukai League untuk lelarian. Sementara NB lebih sering menemani jalan-jalan dan ke kantor.

Ini lantaran League lebih empuk dibanding NB. Paling terasa pada sol bawah. NB terasa sekali lebih keras. League punya efek bouncing sehingga "membantu" saat kaki menjejak trek.

Selain itu, tali League lebih mengunci dan tidak gampang lepas. Beda sekali dengan tali NB yang sering buyar :/

Sunday, April 1, 2018

Kereta Bogor


Malam ini seperi kemarin, pulang berkereta pukul 10 malam. 

Setelah melewatkan satu kereta untuk berharap kereta selanjutnya lebih lega dan mendapat tempat duduk. Eladalah, lega sih iya tapi tetap tidak dapat kursi. 

Alih-alih keluyuran di Instagram atau Facebook, saya memilih ngeblog. Diawali dengan satu dua jepretan, lalu lanjut dengan deretan kalimat. 

Tentang apa ya? Gampang, tentang kereta saja. 

Sambil kedua telinga dibisiki Via Vallen bareng Cak Rul yang merajuk dengan 'Tokyo Nganjuk', jadilah satu artikel. 

Pada ujungnya, saya baru ingat: ini memangnya lagi menulis soal apa to? Oiya, soal membunuh waktu pada penggalan antara stasiun Gondangdia dan Cilebut. :)

Saturday, March 17, 2018

Libur


Hari minggu besok, tepat satu pekan saya vakum berlari pagi. Masalah pencernaan enam hari kemarin masih menyisakan begah dan rasa 'kagak enak'.

Padahal trek depan rumah hingga belakang sana sangat nyaman untuk lari thimik-thimik, interval running, hingga tempo run.

Bahkan ada beberapa ruas trek lurus 100 meter yang asoy banget buat sprint. Juga tanjakan dengan liukan kanan kiri di ujung kampung.

Mungkin ini waktunya untuk ngaso, bersyukur, merenung dan mengisi hari akhir pekan dengan: umbah-umbah dan ngepel 😀

Stay active, keep on moving. Alhamdulillah 😊

Friday, March 16, 2018

Tocquevillian: Komunitas dan Rasa Aman

Fenomena beberapa individu membentuk komunitas sejatinya sudah ada sejak zaman old. Namun, saya baru ngeh belakangan ini. Mungkin karena jenis kelompok dan unsur kesamaan yang membentuk kelompok lumayan dekat dengan saya, minimal saya menjadi pengguna jasa mereka.

Apa itu? Komunitas pengojek daring alias ojek online berdasar wilayah atau lebih spesifik lagi berdasar kesamaan tempat tongkrongan atau pangkalan.

Grab Puri Kembangan (Gepruk), Komunitas Gojek Monas (KGM), Cijantung Uber Community (CU-Com), Paguyuban Ojek Online Palmerah dan lain-lain adalah sebagian dari komunitas atau kelompok yang terbentuk karena kesamaan profesi dan titik lokasi.

Lantas, apakah mereka dibentuk (atau terbentuk) karena kesamaan identitas? Di permukaan, memang iya.

Di sisi lain, jika kita coba perluas lagi, kita bisa meminjam pendekatan sosiologis. Kelompok dan komunitas itu dapat disebut termasuk perilaku sosial Tocquevillian.

Istilah ini dipahami untuk menunjuk kepada lahirnya suatu asosiasi untuk memberi proteksi, rasa aman dan lebih jauh lagi mendorong kemandirian. Baik kemandirian posisi tawar maupun independensi terhadap kelompok lain maupun terhadap struktur di atasnya, misalnya pihak manajemen ojen online.

Sementara, 'kelompok lain' bisa jadi pengemudi ojek konvensional alias pangkalan. Bisa juga aparat dan kelompok informal lain: preman kampung setempat hehehe.

Wajar, jika saya coba meraba-raba dan berada di posisi mereka: bergabung dalam komunitas ojek online memberi rasa aman dan juga solidaritas. Ada rasa bahwa 'ada kawan-kawan yang selalu ada dan siaga membantuku."

Simbol
Berkomunitas juga mememerlukan simbol atau penanda identitas. Yakni, stiker yang tertempel di batok lampu depan, sayap motor samping, sepatbor depan maupun belakang.

Posisinya bisa di mana saja asalkan mudah terbaca. Namanya juga penanda identitas, layaknya pin nama di dada atau baju kerja.

Di luar ojek online, kecenderungan Tocquevillian juga dapat kita temui di klub atau komunitas lainnya. Ambil contoh klub otomotif, komunitas penghobi burung, mancing maupun paguyuban warga komplek perumahan tertentu :)

Untuk yang terakhir, selain sebagai identitas, juga memudahkan staf keamanan/satpam/ security kompleks mengenali dan mengidentifikasi lalu lalang kendaraan yang keluar masuk portal gerbang kompleks. Lagi-lagi, paguyuban dan komunitas bertujuan untuk 'menjamin' rasa aman :)


Wednesday, March 14, 2018

Tsingtao Beer: Bagaimana China Memasarkan Produk ke Pasar Lokal dan Ekspor


Antara produk otentik dan menebalkan rasa bangga.

It's our city pride, our 100% original brand goes to US, Europe and Africa!

Penerjemah menyampaikan kepada kami, menyadur ucapan walikota Qingdao, suatu waktu ketika saya turut bertandang ke negeri utara.

Lebih lanjutnya, salah satu ketua asosiasi pengusaha industri kota itu bercerita di samping saya, Tsingtao Beer mulanya minuman lokal. Sangat lokal. Penikmatnya ya orang sini-sini saja, orang kampung, pekerja, buruh dan buat tongkrongan.

Di acara yang lebih special, waktu itu, kami akan memilih bir kota tetangga, dari utara, Shanghai atau Hongkong. Kami lebih bangga dengan bir luar. Kami enggan minum Tsingtao di momen spesial, padahal itu dibuat di sini.

Pendahulu saya lalu berpikir sederhana: orang sini ya harusnya minumnya bir sini.

Caranya? Ada banyak pilihan, salah satunya dengan mengajak, menghimbau, membujuk warga membeli produk ini.

Untunglah, hal itu tidak kami lakukan. Buang-buang duit.

"Testimoni" dari Perantauan
Pendahulu saya memilih memerintahkan agar 'merapikan' kemasan kaleng bir. Desain harus tetap 'China', jangan meniru desain kemasan bir Hongkong atau Eropa kayak Heineken dkk.

Soal rasa tidak usah diutak-atik. Hanya saja, proses produksi lebih dimodernisasi semata untuk menjaga standar keamanan konsumsi.

Setelah 'reformasi' tersebut, apakah langsung dipasarkan ke warga dan jaringan ritel? Tidak.

Gelombang pertama produksi justru dikirim ke para perantau China di AS. Yang memiliki usaha restoran dan rumah makan.

Dikirim gratis dengan syarat: hidangkan kepada pelanggan kalian yang datang berombongan, minimal 3 orang. Boleh kalian berikan gratis atau separo harga, foto mereka dan kirim fotonya kemari.

Barulah kampanye bir digodog dan dipacu di sini. Sukses? Iya, tapi butuh proses dan waktu untuk menyakinkan kami-kami, saudara kami, tetangga kanan kiri.

Bangga Mengonsumsi Produk Kota Sendiri
Paling menantang adalah bagaimana akhirnya membuat kami akhirnya bangga menghidangkan Tsingtao Beer di acara-acara keluarga dan bisnis spesial, padahal rasa dan aroma ya sama saja dengan yang dulu. Kami bikin dalam kemasan kaleng, botol kaca maupun model dispenser dengan tombol kran :)

Dan, setelah menjadi tuan rumah di negeri sendiri, Tsingtao dikapalkan ke negeri-negeri seberang sebagai produk ekspor beneran dan bukan lagi produk sampel yang dibarter dengan foto bareng :)

"So, bottom up my brother!"

Note: 'bottom up' itu istilah mereka ketika menyeru agar kami menghabiskan minuman sampai tandas (untuk kemudian dituangi lagi).

Angkat sekali lagi gelasmu kawan! Yang ini kata Shaggy Dog di lagu 'Di Sayidan' 😀

Sunday, March 11, 2018

Ketika saya berlari...

Olah raga lari telah menjadi kegiatan yang saya sukai. Secara umum, sudah jelas manfaatnya bagi kesehatan, pun begitu untuk menyegarkan pikiran dan mood alias suasana hati.

Dengan kata lain, lari menjadi salah satu sarana rekreasi saya. Selain makan dan jalan-jalan.

Saat berlari, saya menyukai melihat pemandangan di jalur lelarian. Tidak hanya alam tapi juga apapun yang ada di kanan kiri trek.

Meskipun yang saya sukai adalah pepohonan namun saya juga melihat di sisi jalur. Apapun itu.

Kucing yang lagi mandi matahari, ayam jantan yang nangkring di pagar, emak-emak (muda) yang lagi menyuapi baby, bapak-bapak yang lagi nyuci mobil dan lain-lain. Dan tentunya juga langit biru.

Indera dengar juga saya manjakan dengan memasang earphone tersambung ke HP. Lagu-lagu terbarunya Ed Sheeran, Rihanna, Ariana Grande menjadi favorit saya.

Jika butuh selingan, misalnya pada menit ke-30an, kadang saya sengaja melepas eaephone untuk mendengarkan suara alam. Desiran angin dan nyanyian daun-daun rumpum bambu.

Kala berlari, saya juga suka menyesap aroma khas pagi hari. Segarnya uap pagi, daun dan tanah basah sehabis hujan semalam.

Di lintasan yang dihimpit rumput tinggi atau cemara, saya juga sering iseng menyentuh daun dan batang muda pepohonan.

Juga aroma nasi uduk dan bakaran batok kelapa uda pemilik nasi padang bersiap membakar ikan atau ayam dagangannya. Maklum, jalur lari saya bukan stadion tapi trek kampung :)

Ketika jogging baik pagi maupun sore, saya juga suka sengaja menyapa sesama pelari meskipun belum atau bahkan tidak kenal.

Sekadar mengucap, 'mari Pak' atau 'lari omm?' menjadi ikhtiar untuk tetap menjadi manusia sosial dan waras yang bersilaturahmi, dan bukan pelari yang mengasingkan diri dari lingkungannya.

:)


Wednesday, March 7, 2018

Buku dan blog

"Suka menulis di blog, ojo lali membaca buku."

Itu pesan untuk saya sendiri siang ini ketika dalam perjalanan ke Jakarta dari Bogor, naik kereta. 

Begitu juga, sering browsing dan keluyuran di wall Facebook kala membunuh waktu, sempatkan pula membaca buku. 

Hari ini saya memilih buku berwarna putih berjudul "Mengenal Ilmu Politik" karya Ikhsan Darmawan. 

Buku, bagi saya, ketika banjir informasi seperti sekarang ini - dari internet, media sosial, grup WA - menjadi wahana untuk menyegarkan pikiran. 

Sekaligus pula, memperluas sudut pandang dan tentunya memperdalam ilmu. 

Membaca buku juga ikhtiar tetap menjadi manusia :)