Saturday, February 17, 2018

Tembakau

Yang segera melintas di ingatan saya tentang tembakau adalah kokohnya Gunung Sumbing di Temanggung.

Di hamparan daratan dari kaki dan punggungnya, tanaman tembakau dibudidayakan para petani.

Pemandangan tanaman tembakau, dedaunan hijaunya dan aroma pupuk menyergap ingatan saya. Ya, ingatan tentang tembakai memang tertanam sejak saya belia, sejak usia SD ketika sering diajak Ibunda menengok nenek di Temanggung.

Dari pinggiran desa Jampirejo, dari pematang sawah, dari tepi selokan, saya suka menyapu hamparan kebun tembakau dari hadapan saya hingga nun jauh di punggung gunung.

Pandangan saya berujung di puncak Sumbing yang kadang kala tertutup kabut dan jika beruntung terlihat puncak yang agung di ketinggian sana.

Ketika jalan-jalan di jalur-jalur persawahan, saya kadang meraba permukaan daun tembakau. Ada perasaan tenang di hati, mungkin mencoba menyesap ketelatenan para petani menanam emas hijau ini.

Begitu juga ketika bertahun-tahun kemudian, tepatnya 2007, saya mendaki Sumbing bersama kawan kuliah, kembali saya menikmati lekat-lekat hamparan tanaman tembakau. Meskipun bukan perokok super aktif, saya merasakan bagaimana ribuan bahkan jutaan saudara-saudara petani Temanggung mengharapkan berkahNya dari tanaman ini.

:)


Sunday, February 4, 2018

Belanja Online

Belakangan ini, tepatnya sudah sekira setahun ini, saya semakin sering membeli barang dari secara online.

Dimulai dari membeli jam tangan dari 'Jual-Beli' di Kaskus, berlanjut hingga di zaman now yang makin marak dengan beragamnya marketplace.

Hingga kini, saya baru berbelanja dari dua marketplace: kalau nggak Tokopedia ya Bukalapak.

Soal harga adalah pertimbangan utama saya untuk membeli barang dari layanan ini. Pengalaman nih, saya pernah mendapatkan jam tangan Casio (spek biasalah, bukan G-Shock dkk) seharga Rp260an ribu ketika banderol di toko riil masih mencapai Rp 400 ribu.

Begitu juga dengan jemuran baju, di toko beneran saya dikasih harga Rp 350-450ribu dan ketika menengok ke Tokopedia, barang yang sama seharga Rp 265ribu. Ditambah ongkos kirim pun, harga total Rp 285 ribu, diantar sampai rumah hehehe. Ya pasti saya milih yang murah lah.

Namun tidak semua barang saya beli dari marketplace. Prinsip saya: barang yang wearable seperti pakaian dan sepatu, anti bagi saya untuk beli dari MP. 

Ini karena standar ukuran bisa macem-macem je, apalagi sudah banyak cerita kawan yang beli dari MP ternyata kecewa karena size-nya nggak tepat.

Satu lagi, meskipun sejatinya jarang belanja dari MP, keberadaan aplikasi Tokopedia dll juga menjadi sarana 'hiburan' buat saya. Apa itu? ya menjadi wahana window shopping. 

Pas nunggu kereta atau kerjaan, lihat-lihat barang di marketplace. Apakah ujung-ujungnya beli, lebih sering nggak. Sekadar tahu saja, oh ada ya barang kek gini. :)